{"id":1373,"date":"2021-02-27T18:52:08","date_gmt":"2021-02-27T11:52:08","guid":{"rendered":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/?p=1373"},"modified":"2021-02-27T18:52:08","modified_gmt":"2021-02-27T11:52:08","slug":"hilangkan-rape-culture","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/hilangkan-rape-culture\/","title":{"rendered":"Hilangkan &#8220;Rape culture&#8221;"},"content":{"rendered":"<p>Penyintas kekerasan seksual seringkali dikucilkan oleh masyarakat. Misalnya, dalam kasus pemerkosaan, para korban kerap dianggap sebagai perempuan yang telah ternoda, kotor, tak pantas disentuh lagi, apalagi dicintai.<br \/>\nKebiasaan victim blaming atau menyalahkan korban ini diasosiasikan dengan \u201cRape Culture\u201d, yaitu menurut UN Women adalah, lingkungan sosial yang memungkinkan kekerasan seksual dinormalisasi dan dibenarkan, didorong oleh ketidaksetaraan gender yang terus-menerus.<\/p>\n<p>Melansir dari The Jakarta Post, salah satu permasalahan maraknya \u201cRape Culture\u201d di Indonesia dikarenakan tidak adanya Undang-Undang yang dapat menjerat para pelaku. Dengan tidak memprioritaskan RUU PKS, para pembuat undang-undang justru melanggengkan budaya pemerkosaan di Indonesia.<br \/>\nNahh makanya teman-teman, mindset \u201cRape Culture\u201d harus segera dihilangkan. Ngga jarang loh korban akhirnya menyalahkan diri sendiri atas kekerasan seksual yang menimpanya. Padahal, seharusnya kita mengedukasi sesama bahwa yang harus dijaga itu adalah hawa nafsu sang pelaku dan korban layak mendapatkan perlindungan.<br \/>\nYuk teman\u2014teman kita ubah pola pikir \u201cRape Culture\u201d yang masih beredar di tengah masyarakat Indonesia dan dukung pengesahan RUU PKS. Kalian bisa mulai dengan isi petisi dibawah ini:<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.tbsfightforsisterhood.co.id\">https:\/\/www.tbsfightforsisterhood.co.id<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dipublikasikan oleh eventapaaja<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penyintas kekerasan seksual seringkali dikucilkan oleh masyarakat. Misalnya, dalam kasus pemerkosaan, para korban kerap dianggap sebagai perempuan yang telah ternoda, kotor, tak pantas disentuh lagi, apalagi dicintai. Kebiasaan victim blaming atau menyalahkan korban ini diasosiasikan dengan \u201cRape Culture\u201d, yaitu menurut UN Women adalah, lingkungan sosial yang memungkinkan kekerasan seksual dinormalisasi dan dibenarkan, didorong oleh ketidaksetaraan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1375,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[12],"tags":[474,475],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i1.wp.com\/eventapaaja.com\/id\/wp-content\/uploads\/2021\/02\/IMG-20210227-WA0001.jpg?fit=1080%2C1080&ssl=1","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1373"}],"collection":[{"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1373"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1373\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1375"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/eventapaaja.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}